Peraturan Menpan RB Nomor 61 Tahun 2018 Memberikan Peluang CPNS yang Gagal Tes SKD di Pasing Grade

Kabar gembira bagi peserta Tes CPNS yang mengikuti Seleksi Kopetensi Dasar (SKD) dikarenakan tingkat kesulitan Soal Seleksi Kompetensi Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2018 sangat tinggi dibandingkan dengan soal Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) pada tahun sebelumnya, sehingga mengakibatkan terbatasnya jumlah kelulusan peserta Seleksi Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2018 dan terjadinya disparitas hasil kelulusan antar wilayah sehingga berpotensi tidak terpenuhinya kebutuhan/formasi yang telah ditetapkan.

Panduan Aplikasi Raport (ARD)

Pada aplikasi rapor digital operator guru yaitu bertanggung jawab dalam kegiatan belajar mengajar dan Penilaian hasil belajar siswa. Pada operator guru dan wali kelas ini penilain hasil berlajar di input, berdasarkan mata pelajar guru tersebut, setelah itu wali kelas hanya mengisi beberapa.

Pramuka

Gerakan Pramuka Indonesia adalah organisasi non formal yang diselenggarakan oleh pendidikan kepanduan, Kata PRAMUKA sendiri merupakan singkatan dari Praja Muda Karana yang memiliki makna Jiwa Muda yang Suka Berkarya. Organisasi non formal yang berlambangkan tunas kelapa ini bisa ditemukan diberbagai sekolahan di Indonesia karena memang Pramuka menjadi salah satu ektrakurikuler wajib di sekolah sebab kegiatan pramuka secar tidak langsung membentuk anggotanya untuk memiliki watak, akhlak, dan budi pekerti yang luhur.

Program xxxxxx

xxxxxxxxxxxxxxx

Coba Coba Pasang

heeeeeem

Mamane Alifa Raudlhatun Nisa

Hahahaaaaa aja kaget

About

Selamat datang di situs website kami, semoga apa yang ada di sini dapat bermanfaat dan dijadikan referensi untuk sekolah/madrasah Bapak/Ibu Guru dan barokah. Amiiiin
Showing posts with label Hadits. Show all posts
Showing posts with label Hadits. Show all posts

Tuesday, 20 November 2018

Rabu Wekasan

Rabu Wekasan (Jawa: Rebo Wekasan) adalah tradisi ritual yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, guna memohon perlindungan kepada Allah Swt dari berbagai macam malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dll.

Bentuk ritual Rebo Wekasan meliputi empat hal; (1) shalat tolak bala; (2) berdoa dengan doa-doa khusus; (3) minum air jimat; dan (4) selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.

Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Nafil Abid Wa Qami Kulli Jabbar Anid (biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi). Anjuran serupa juga terdapat pada kitab: Al-Jawahir Al-Khams karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa salah seorang Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti orang lain) mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada Rabu terakhir Bulan Shafar, Allah Swt menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala dalam satu malam. Oleh karena itu, beliau menyarankan Umat Islam untuk shalat dan berdoa memohon agar dihindarkan dari bala tsb. Tata-caranya adalah shalat 4 Rakaat. Setiap rakaat membaca surat al Fatihah dan Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan An-Nas 1 kali. Kemudian setelah salam membaca doa khusus yang dibaca sebanyak 3 kali. Waktunya dilakukan pada pagi hari (waktu Dhuha).

PANDANGAN ISLAM

Untuk menyikapi masalah ini, kita perlu meninjau dari berbagai sudut pandang.

Pertama, rekomendasi sebagian ulama sufi (waliyullah) tersebut didasari pada ilham. Ilham adalah bisikan hati yang datangnya dari Allah (semacam inspirasi bagi masyarakat umum). Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh, ilham tidak dapat menjadi dasar hukum. Ilham tidak bisa melahirkan hukum wajib, sunnah, makruh, mubah, atau haram.

Kedua, ilham yang diterima para ulama tersebut tidak dalam rangka menghukumi melainkan hanya informasi dari alam ghaib. Jadi, anjuran beliau-beliau tidak mengikat karena tidak berkaitan dengan hukum Syariat.

Ketiga, ilham yang diterima seorang wali tidak boleh diamalkan oleh orang lain (apalagi orang awam) sebelum dicocokkan dengan al-Quran dan Hadits. Jika sesuai dengan al-Quran dan Hadits, maka ilham tersebut dapat dipastikan kebenarannya. Jika bertentangan, maka ilham tersebut harus ditinggalkan.

Memang ada hadits dla’if yang menerangkan tentang Rabu terakhir di Bulan Shafar, yaitu:
آخر أربعاء فى الشهر يوم نَحْسٍ مستمر (وكيع فى الغُرَر ، وابن مردويه فى تفسيره ، والخطيب عن ابن عباس ، وفيه مَسْلَمَة بن الصَّلْت متروك ، وأورده ابن الجوزى فى الموضوعات ، ورواه الطيورى من وجه آخر عن ابن عباس موقوفا)
 “Dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda: “Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya naas yang terus-menerus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam at-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi. (dikutip dari Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi li-‘Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).

سنن البيهقى - (ج 2 / ص 320)عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« أَتَانِى جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَأَمَرَنِى أَنْ أَقْضِىَ بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ وَقَالَ :« إِنَّ يَوْمَ الأَرْبَعَاءِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ ».

Selain dlaif, hadits ini juga tidak berkaitan dengan hukum (wajib, halal, haram, dll), melainkan hanya bersifat peringatan (at-targhib wat-tarhib).

HUKUM MEYAKINI

Hukum meyakini datangnya malapetaka di akhir Bulan Shafar, sudah dijelaskan oleh hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
صحيح البخارى - (ج 19 / ص 152 قَالَ « لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ »
“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadits ini merupakan respon Nabi Saw terhadap tradisi yang brekembang di masa Jahiliyah. Ibnu Rajab menulis: Maksud hadits di atas, orang-orang Jahiliyah meyakini datangnya sial pada bulan Shafar. Maka Nabi SAW membatalkan hal tersebut. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya. Barangkali pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan Shafar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu. Meyakini datangnya sial pada bulan Shafar termasuk jenis thiyarah (meyakini pertanda buruk) yang dilarang. (Lathaif al-Maarif, hal. 148).

Hadis ini secara implisit juga menegaskan bahwa Bulan Shafar sama seperti bulan-bulan lainnya. Bulan tidak memiliki kehendak sendiri. Ia berjalan sesuai dengan kehendak Allah Swt.

Muktamar NU ke-3 juga pernah menjawab tentang hukum berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada tiap-tiap bulan. Para Muktamirin mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah sbb: Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti, bukan untuk ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya, semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Pencipta. Apa yang dikutip tentang hari-hari naas dari sahabat Ali kw. adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu (Ahkamul Fuqaha, 2010: 54).

HUKUM SHALAT

Shalat Rebo Wekasan (sebagaimana anjuran sebagian ulama di atas), jika niatnya adalah shalat Rebo Wekasan secara khusus, maka hukumnya tidak boleh, karena Syariat Islam tidak pernah mengenal shalat bernama Rebo Wekasan. Tapi jika niatnya adalah shalat sunnah mutlaq atau shalat hajat, maka hukumnya boleh-boleh saja. Shalat sunnah mutlaq adalah shalat yang tidak dibatasi waktu, tidak dibatasi sebab, dan bilangannya tidak terbatas. Shalat hajat adalah shalat yang dilaksanakan saat kita memiliki keinginan (hajat) tertentu, termasuk hajat li dafil makhuf (menolak hal-hal yang dikhawatirkan).

Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali Qudus (imam masjidil haram) dalam kitab Kanzun Najah Was Surur halaman 33 menulis: Syeikh Zainuddin murid Imam Ibnu Hajar Al-Makki berkata dalam kitab Irsyadul Ibad, demikian juga para ulama madzhab lain, mengatakan: Termasuk bidah tercela yang pelakunya dianggap berdosa dan penguasa wajib melarang pelakunya, yaitu Shalat Raghaib 12 rakaat yang dilaksanakan antara Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama bulan Rajab.. Kami (Syeikh Abdul Hamid) berpendapat : Sama dengan shalat tersebut (termasuk bidah tercela) yaitu Shalat Bulan Shafar. Seseorang yang akan shalat pada salah satu waktu tersebut, berniatlah melakukan shalat sunnat mutlaq secara sendiri-sendiri tanpa ada ketentuan bilangan, yakni tidak terkait dengan waktu, sebab, atau hitungan rakaat.

Keputusan musyawarah NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang juga menegaskan bahwa shalat khusus Rebo Wekasan hukumnya haram, kecuali jika diniati shalat sunnah muthlaqah atau niat shalat hajat. Kemudian Muktamar NU ke-25 di Surabaya (Tanggal 20-25 Desember 1971 M) juga melarang shalat yang tidak ada dasar hukumnya, kecuali diniati shalat mutlaq. (Referensi: Tuhfah al-Muhtaj Juz VII, Hal 317).

HUKUM BERDOA

Berdoa untuk menolak-balak (malapetaka) pada hari Rabu Wekasan hukumnya boleh, tapi harus diniati berdoa memohon perlindungan dari malapetaka secara umum (tidak hanya malapetaka Rabu Wekasan saja). Al-Hafidz Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali menyatakan: Meneliti sebab-sebab bencana seperti melihat perbintangan dan semacamnya merupakan thiyarah yang terlarang. Karena orang-orang yang meneliti biasanya tidak menyibukkan diri dengan amal-amal baik sebagai penolak balak, melainkan justru memerintahkan agar tidak keluar rumah dan tidak bekerja. Padahal itu jelas tidak mencegah terjadinya keputusan dan ketentuan Allah. Ada lagi yang menyibukkan diri dengan perbuatan maksiat, padahal itu dapat mendorong terjadinya malapetaka. Syariat mengajarkan agar (kita) tidak perlu meneliti melainkan menyibukkan diri dengan amal-amal yang dapat menolak balak, seperti berdoa, berzikir, bersedekah, dan bertawakal kepada Allah Swt serta beriman pada qadla dan qadar-Nya. (Ibn Rajab, Lathaif al-Maarif, hal. 143).

HUKUM MENYEBARKAN

Hadratus Syeikh KH. M. Hasyim Asyari pernah menjawab pertanyaan tentang Rebo Wekasan dan beliau menyatakan bahwa semua itu tidak ada dasarnya dalam Islam (ghairu masyru’). Umat Islam juga dilarang menyebarkan atau mengajak orang lain untuk mengerjakannya.
Berikut naskah lengkap dari beliau:

بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على أمور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

أورا وناع فيتوا أجاء – أجاء لن علاكوني صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت إع سؤال، كرنا صلاة لورو إيكو ماهو دودو صلاة مشروعة في الشرع لن أورا أنا أصلي في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها، كيا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين، التحرير لن سأ فندوكور كيا كتاب النهاية، المهذب لن إحياء علوم الدين. كابيه ماهو أورا أنا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.

ومن المعلوم أنه لو كان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها، والعادة تحيل أن يكون مثل هذه السنة وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين. لن أورا وناع أويه فيتوا أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع كتاب حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدي قال: ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة، لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القاري: لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة والحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة انتهى. لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية: ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت أن نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلاني على البخاري: ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى…. …… إلى أن قال: وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعَةٍ. سكيرا أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة هديه كلوان دليل حديث موضوع، مك أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة ربو وكاسان كلوان داووهي ستعاهي علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سبب إيكي بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم. (هذا جواب الفقير إليه تعالى محمد هاشم أشعري جومباع).

KESIMPULAN

Tradisi Rebo Wekasan memang bukan bagian dari Syariat Islam, akan tetapi merupakan tradisi yang positif karena
(1) menganjurkan shalat dan doa;
(2) menganjurkan banyak bersedekah;
(3) menghormati para wali yang mukasyafah (QS. Yunus : 62).

Karena itu, hukum ibadahnya sangat bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. Jika niat dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka hukumnya boleh. Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya), maka hukumya haram.

Bagi yang meyakini silahkan mengerjakan tapi harus sesuai aturan syariat dan tidak perlu mengajak siapapun. Bagi yang tidak meyakini tidak perlu mencela atau mencaci-maki.

Mengenai indikasi adanya kesialan pada akhir bulan Shafar, seperti peristiwa angin topan yang memusnahkan Kaum ‘Aad (QS. Al-Qamar: 18-20), maka itu hanya satu peristiwa saja dan tidak terjadi terus-menerus. Karena banyak peristiwa baik yang juga terjadi pada Rabu terakhir Bulan Shafar, seperti penemuan air Zamzam di Masjidil Haram, penemuan sumber air oleh Sunan Giri di Gresik, dll.

Kemudian, betapa banyak orang yang selamat (tidak tertimpa musibah) pada Hari Rabu terakhir bulan Shafar, meskipun mereka tidak shalat Rebo Wekasan. Sebaliknya, betapa banyak musibah yang justru terjadi pada hari Kamis, Jum’at, Sabtu, dll (selain Rabu Wekasan) dan juga pada bulan-bulan selain Bulan Shafar. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya musibah atau malapetaka adalah urusan Allah, yang tentu saja berkorelasi dengan sebab-sebab yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

Mengenai cuaca ekstrim yang terjadi di bulan ini (Shafar/Desember 2012-Januari 2013), maka itu adalah siklus tahunan.

Itu adalah fenomena alam yang bersifat alamiah (Sunnatullah) dan terjadi setiap tahun selama satu bulanan (bukan hanya terjadi pada Hari Rabu Wekasan saja). Intinya, sebuah hari bernama “Rebo Wekasan” tidak akan mampu membuat bencana apapun tanpa seizin Allah Swt. 

Tuesday, 11 September 2018

HADITS MENGANGGAP SIAL




بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

MENGANGGAP SIAL

لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ

“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial karena sesuatu, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar”.

 (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220).

Hadits semakna adalah dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.”

 (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538)


Hadits  tersebut melarang beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Suro dan Shafar.

Menganggap bulan Suro atau bulan Muharram adalah bulan keramat sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya.

Jika lewat di depan kuburan, selalu sial dan sering melihat hantu gentayangan.

Anggapan sial dengan angka 13. Benarkah Angka 13 Membawa Sial?
Banyak pesawat Terbang tidak ada bangku nomor 13, padahal pesawat dibuat dan dikelola oleh orang yang cerdas dan pintar atau hukum sebab-akibat dan  teknologi, tetapi apa hubungannya antara 13 dan sial?

 Secara logika, tidak ada hubungan sebab-akibat, baik secara syar'i maupun kauni. itulah tathoyur/tiyaroh/syirik yang membuat akal sehat tidak berfungsi.

Anggapan angka 13 membawa sial adalah anggapan yang hampir mendunia.

Ini hanya anggapan khurafat dan takhayul yang tidak dibenarkan. Bukankah seorang muslim yakin kepada Allah yang menetapkan takdir, untung dan sial, baik dan buruk adalah takdir Allah yang tidak ada kaitannya dengan angka 13.

Inilah yang disebut dengan “thiyarah” (ﺍﻟﻄِّﻴَﺮَﺓُ) yaitu beranggapan sial.

‘Abdullah bin Mas’ud menyebutkan,

“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”.

Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata,
“Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal. ”(HR. Abu Daud)

Dalam pelajaran tauhid, sebab ada dua:

1. Sebab Kauniy
Sebab kauniy adalah hukum sebab-akibat alam atau memang ada penelitian bahwa itu adalah sebabnya
Miisalnya:
-Api kalau kena air ya padam, kertas kena api terbakar dengan mudah
-Motor jalan dengan bahan bakar bensin bukan air (penelitian)

2. Sebab syar’i
Sebab syar’i adalah sebab yang ditentukan oleh syariat menjadi penyebab sesuatu, MESKIPUN bukan penyebab secara kauniy
Misalnya: Jika ingin dipanjangkan umur (berkah) dan dimudahkan rezeki maka silaturahmi (silaturahmi penyebab mudah rezeki)

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

(QS. Al A’raf: 131).

HADITS NAJIS CICAK DI MA'FU APA TIDAK?


Mau nanya masalah najis ustadz
Kotoran cicak (bahasa madura tamiceng) termasuk najis di ma'fu apa tidak,? Karna di masyarakat biasanya cukup di sapu ketika najis tersebut kering. Hal ini Biasanya juga terjadi di masjid-masjid

Jawaban:
_*1. Kalau sekiranya 1 tahinya maka dicuci biasa*_
_*2. Bila terlalu sering tahi cicak, terutamanya di Masjid, maka itu *masyaqqoh (menyusahkan)* dan hal itu termasuk *عموم البلوى (beban yang sudah merata2/menyebarluas)* dan *تعذر الاحترارmemberatkan utk selalu menjaganya*....oleh karena itu *di-ma'fu* dan *sah solatnya*_

*_Kesimpulannya: cukup sapu ketika kering_*
_spt contohnya di masjidil harom banyak tahi burung merpati..._
📚 المجموع النووي: ج٢/ص:٥٥٠/م. شاملة):

..... *وَعَنْ الْمَسَاجِدِ بِأَنَّهُ تُرِكَ لِلْمَشَقَّةِ فِي إزَالَتِهِ مَعَ تَجَدُّدِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَعِنْدِي أَنَّهُ إذَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى وَتَعَذَّرَ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ يُعْفَى عَنْهُ وَتَصِحُّ الصَّلَاة* كَمَا يُعْفَى عَنْ طِينِ الشَّوَارِعِ وَغُبَارِ السِّرْجِينِ....

و الله أعلم بالصواب...

HADITS DZIKIR YANG PALING RINGAN



بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

ZIKIR YANG PALING RINGAN

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang yang dicintai Allah ar-Rahman, ringan di lisan dan berat di timbangan, yaitu Subhaanallahi wa bihamdih, subhaanallahil ‘azhiim (artinya : “Maha Suci Allah sambil memuji-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung).”

(HR. Bukhari 6406 dan Muslim 2694)

Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ

“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.”

(HR. Bukhari 4729 dan Muslim 2785)

Kandungan hadits

1. Konsep dalam Islam mengenal amalan dzikir, yang diagama lain tidak dikenal

2. Dzikir yang teringan adalah bertasbih dan memuji Allah Subhanahu wata'ala, sekalipun demikian pahalanya melampaui dua bukit beratnya

3. Tasbih dan Tahmid  bila di lantunkan hanya butuh waktu dua menit, tetapi keutamaannya menghantarkan pelakunya masuk surga

4. Masuk surga bukan ditentukan oleh bobot dan berat badan, tetapi ditentukan oleh beratnya amal shaleh.

5. Ktika waktu longgar usahakan di gunakan untuk dzikir, terutama ketika sedang macet di jalan maka  berdzikir merupakan pilihan yang tepat.

6.  Dengan dzikrullah hati menjadi tenang, perasaan damai, dan karakter menjadi cool.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْنَ

“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya.
Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”
(QS. Al-Anbiya’: 47)

HADITS DOA KETIKA SYAFAR ADALAH MUSTAJAB



بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

DOA KETIKA SAFAR ADALAH MUSTAJAB

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir, (3) do’a orang tua pada anaknya.”

(HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862)

Safar (perjalanan untuk hal dan tujuan yang baik) adalah suatu hal yang menyulitkan. Namun di saat sulit semacam itu, Allah memberikan kita kesempatan untuk banyak berdo’a dan di situlah waktu mustajab, mudah dikabulkan do’a.

Waktu ketika  bersafar dituntunkan  banyak memohon segala kemudahan kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Berdoa untuk kebahagiaan akhirat dan  kemudahan dalam hisab di akhirat lebih utama untuk selalu dipanjatkan ketika dalam keadaan safar.

 Selanjutnya berdoa untuk kebaikan diri, dijauhkan dari kejelekan diri, begitu pula doakan kebaikan bagi istri, anak, orang tua, kerabat dan saudara muslim lainnya.

Dzikir ketika safar

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ


اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

“Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna  lahu muqrinin. Wa inna ila robbina lamun-qolibuun (QS. Az Zukhruf: 13-14)


Allahumma innaa nas’aluka fii safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardho. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.”

 HR. Muslim no. 1342,

(Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali.


Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga)

HADITS TAWAKAL


بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

TAWAKAL

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا ، وتَرُوْحُ بِطَانًا

Dari Umar bin al-Khatthab Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allâh dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, sungguh kalian akan diberikan rizki oleh Allâh sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.”

HR. Ahmad dalam  (I/30, 52); At-Tirmidzi (no. 2344) dan An-Nasa-i (no. 11805).

Tawakkal merupakan faktor penting untuk mengundang rizki. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allâh, niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya…” [ath-Thalâq/65:2-3)

Tawakkal artinya mewakilkan, yaitu menampakkan kelemahan dan bersandar atau bergantung kepada seseorang.

Secara istilah,  tawakkal ialah penyandaran hati dengan jujur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam upaya memperoleh kebaikan-kebaikan dan menolak bahaya-bahaya dalam seluruh urusan dunia dan akhirat.

Tawakkal itu seperti anak kecil yang tidak mengetahui apa-apa yang dapat melindunginya selain ibunya, maka begitu juga orang yang bertawakkal, dia tidak mengetahui sesuatu yang dapat melindunginya selain Allah Subhanahu wata'ala.

Tawakal adalah bukti mentauhidkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan hati. Apabila di dalam hati masih ada noda kesyirikan maka tawakkalnya masih cacat. Dan bila seseorang sudah memurnikan tauhidnya maka tawakkalnya menjadi benar.

 Inti tawakkal adalah ridha dengan apa yang diperbuat oleh Allâh Azza wa Jalla, sekalipun  kelihatan kehilangan, tetapi bila ridho sebagaimana riwayat   Anas Ra berikut, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا ، ؛ فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَـهِيْمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Tidak seorang muslim pun yang menaburkan benih atau menanam tanaman, lalu seekor burung, atau seseorang, atau seekor binatang makan sebagian darinya, kecuali akan dinilai sebagai sedekah baginya.

HR. al-Bukhâri (no. 2320, 6012)

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allâh-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

[al-‘Ankabût/29:60]

HADITS PINTU-PINTU SYURGA



بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

PINTU-PINTU SURGA

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menginfaqkan dua jenis (berpasangan) dari hartanya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surrga; (lalu dikatakan kepadanya): "Wahai 'Abdullah, inilah kebaikan yang kamu amalkan. Maka barangsiapa dari kalangan ahli shalat dia akan dipanggil dari pintu shalat dan barangsiapa dari kalangan ahli jihad dia akan dipanggil dari pintu jihad dan barangsiapa dari kalangan ahli puasa dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan dan barangsiapa dari kalangan ahli sedekah dia akan dipanggil dari pintu sedekah". Lantas Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu 'anhu bertanya: "Demi bapa dan ibuku, jika seseorang dipanggil diantara pintu-pintu yang ada, itu sebuah kepastian, namun apakah mungkin seseorang akan dipanggil dari semua pintu?". Rasulullah menjawab: "Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka".

HR Bukhari No: 1764 Status: Hadis Sahih

Kandungan hadits

1.  Masing masing orang mempunyai kelebihan yang bisa dibanggakan di hadapan Allah Subhanahu wata'ala
2.  Mereka yang ahli Shalat, ahli Jihad, ahli Sedekah, masing-masing akan dipanggil melalui pintu-pintu di surga masing-masing melalui pintu tertentu,  antaranya pintu shalat, jihad dan sedekah untuk masuk ke surga.

3.  Orang yang melaksanakan semua ibadat,  semua pintu ibadat di surga akan memanggil untuk masuk ke surga melalui pintu  masing-masing.

4. Menjadi calon penghuni surga sesungguhnya mudah, ringan, dan tidak mahal bila merujuk kepada apa yang dicontohkan dan dituntunkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam

HADITS CINTAILAH DENGAN SEWAJARNYA



بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

WAJAR SAJA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya. Boleh jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari nanti dia menjadi orang yang kamu cintai.”

 [HR. At-Tirmidzi No: 1997)

Kandungan hadits

1.  Benih cinta dan kasih sayang adalah fitrah manusia. Tidak boleh dibunuh, tetapi salurkan pada jalan yang tepat.

2.  Maka cintailah sesuatu dan atau seseorang sewajarnya dengan memberikan hak-haknya tanpa berlebihan dan tanpa meremehkan haknya.

3.  Jika seseorang berlebihan dalam membenci lawannya, mungkin suatu masa nanti hubungan mereka menjadi baik maka mereka akan malu untuk menjadi sahabat dan kawan karena merasa malu disebabkan berlebihan dalam membencinya selama ini.

4. Cinta dan benci adalah dua kata yang bertolak belakang. Kurang lebih sepadan dengan “suka dan tidak suka” atau “sudi dan tidak sudi.”

5.  Cinta akan datang jika seseorang telah menyenangkan dan membahagiakan.

6.  Benci datang apabila menjadikan seseorang kecewa, menyesal, dan merugikan.

7. Ketika salah nenerjemahkan cinta atau benci dalam kehidupan, maka akan berdampak kepada lawan bisa dianggap sebagai kawan dan kawan sebagai lawan.

8. Jika cinta itu datang dan muncul, pasti Anda akan mempersiapkan diri untuk menyerahkan segala pengorbanan yang dituntut oleh cinta tersebut. Namun, jika benci itu datang, Anda pasti akan mempersiapkan langkah-langkah untuk membalas dan meluapkan rasa benci Anda. Itu adalah hal yang telah menghiasi langkah setiap manusia. Allah l telah menjelaskannya hal ini dalam sebuah firman-Nya:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)

JUJUR VS DUSTA



بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

JUJUR VS DUSTA

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Dari Abdullah RA bahwa Nabi SAW  bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur dia akan menjadi orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu akan membimbing kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan memandu ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu dusta maka dia akan menjadi sebagai seorang pebdusta."

(HR Bukhari No: 5629)

Kandungan hadits

1.  Berlaku jujur dan benar adalah dua sifat kenabian yang akan memandu kita untuk melakukan amal penghuni surga.

2.  Orang yang berlaku jujur dan benar akan memandu kehidupannya untuk melakukan kebaikan, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.

3.    Orang yang istiqamah dan biasa melakukan sesuatu dengan benar dan jujur, dia akan menjadi seorang yang benar dan jujur.

4. Orang yang  berdusta, akan memandu kehidupannya untuk melakukan keburukan dan maksiat dengan meninggalkan perintah dan melakukan larangan.

5. Sifat  dusta akan membimbing seseorang untuk melakukan maksiat dan pelanggaran yang akan memandunya ke neraka.

6.  Orang yang biasa berbohong, dia akan konsisten dalam kemaksiatan hingga tercatat disisi Allah Subhanahu wata'ala sebagai seorang pebdusta.

BENTUK SYUKUR RASULULLAH SAW




بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه


BENTUK SYUKUR RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM

عن عائشة رَضي الله عنها: أنَّ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يقُومُ مِنَ اللَّيلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقُلْتُ لَهُ: لِمَ تَصنَعُ هَذَا يَا رسولَ الله، وَقدْ غَفَرَ الله لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: ((أَفَلا أُحِبُّ أنْ أكُونَ عَبْدًا شَكُورًا)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ، هَذَا لفظ البخاري.

Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. berdiri untuk beribadah pada sebagian  malam hingga bengkak kedua tapak kakinya. Saya (Aisyah) lalu berkata padanya: "Mengapa Anda berbuat demikian, ya Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni  dosa-dosa  yang telah lalu dan yang kemudian?"
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?"

 (Muttafaq 'alaih)


Kandungan hadits

1. Bentuk syukur yang    dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah dengan mujahadah, yaitu kesungguhan dalam beribadah.

2.  Syukur harus dibuktikan dengan amal sebagaimana yang telah diucapkan oleh lisan. Diantara amal shaleh kepada Allah Subhanahu wata'ala yang terbaik adalah shalat, dan Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.

3. Bentuk syukur yang dirupakan dalam ketaatan, berdampak pada jaminan dari Allah Subhanahu wata'ala akan membimbing hamba tersebut untuk selalu berada dijalan yang benar yang diridhai-Nya.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah


 وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

_*Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
(QS. Al-Ankabut:69)

HUKUM ORANG MANDI SALAH SATU ANGGOTA BADAN DI PERBAN


     Gimna cara mandinya seseorang yang pada salah satu anggota badannya di perban tapi sebelum di perban tempat lukanya tidak di bersihkan terlbih dhuluu, Mohon dngan referensinyaa

*Jawaban*

Basuh anggota yang tidak di perban usap perban, Dan tayammum (wajah dan kedua tangan) untuk anggota yang di perban. Jika perbannya diletakkan dalam keadaan hadats maka wajib qadla'.
Juga dqadla sklpn dletakkn di atas suci, klu pngikat perbanx mlebihi dr kbutuhanx

*Referensi*
📘 المقدمة الحضرمية

🖋 ثمَّ إِن كَانَ عَلَيْهِ جبيرَة نَزعهَا وجوبا فَإِن خَافَ من نَزعهَا غسل الصَّحِيح وَمسح عَلَيْهَا وَتيَمّم عَمَّا تحتهَا فِي الْوَجْه وَالْيَدَيْنِ وَيجب عَلَيْهِ الْقَضَاء إِذا وضع الْجَبِيرَة على غير طهر أَو كَانَت فِي الْوَجْه وَالْيَدَيْن

ِ📒 كفاية اﻷخيار

🖊 ﺍ‍ﻟ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﻴ‍‍ﺔ: ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻏ‍‍ﺴ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺤ‍‍ﻴ‍‍ﺢ‍ ‍ﻭ‍ﻣ‍‍ﺴ‍‍ﺢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺗ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﺗ‍‍ﻴ‍‍ﻤ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﺻ‍‍ﻠ‍‍ﻰ .. ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻌ‍‍ﻴ‍‍ﺪ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﺻ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻩ‍ ‍ﺑ‍‍ﺬ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﺇ‍ﻥ‍ ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺗ‍‍ﺮ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﻃ‍‍ﻬ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺓ; ‍ﺃ‍ﻱ‍: ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﻳ‍‍ﺄ‍ﺧ‍‍ﺬ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺤ‍‍ﻴ‍‍ﺢ‍ ‍ﺇ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﺑ‍‍ﺪ ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﺳ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﻙ‍; ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﺣ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﺌ‍‍ﺬ ‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﺪ ‍ﻣ‍‍ﺴ‍‍ﺢ‍ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺎﺀ ‍ﻛ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﺗ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻡ‍ ‍ﻭ‍ﺟ‍‍ﻮ‍ﺑ‍‍ﻪ‍ ‍ﺷ‍‍ﺒ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﻒ‍, ‍ﻭ‍ﻣ‍‍ﺎ‍ﺳ‍‍ﺤ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻌ‍‍ﻴ‍‍ﺪ.
‍ﻭ‍ﺧ‍‍ﺮ‍ﺝ‍ ‍ﺑ‍‍ﻘ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍: (‍ﺇ‍ﻥ‍ ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﻊ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﻃ‍‍ﻬ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺓ) ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻟ‍‍ﻮ ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺣ‍‍ﺪ‍ﺙ‍ .. ‍ﻓ‍‍ﺈ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺈ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﺓ; ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﺘ‍‍ﻔ‍‍ﺎﺀ ‍ﺷ‍‍ﺒ‍‍ﻬ‍‍ﻪ‍ ‍ﺣ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﺌ‍‍ﺬ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﻒ‍; ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻳ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻧ‍‍ﺰ‍ﻋ‍‍ﻪ‍ ‍ﺇ‍ﻥ‍ ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﻳ‍‍ﺨ‍‍ﻒ‍ ‍ﻣ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﺿ‍‍ﺮ‍ﺭ‍ﺍ ‍ﻟ‍‍ﻴ‍‍ﺘ‍‍ﻄ‍‍ﻬ‍‍ﺮ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻀ‍‍ﻌ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﻃ‍‍ﻬ‍‍ﺮ.
‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺜ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺜ‍‍ﺔ: ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﺒ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﺓ, ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﺼ‍‍ﻮ‍ﻕ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﻋ‍‍ﻀ‍‍ﻮ ‍ﺗ‍‍ﻴ‍‍ﻤ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﻣ‍‍ﺴ‍‍ﺤ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻏ‍‍ﺴ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺤ‍‍ﻴ‍‍ﺢ‍ ‍ﻛ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﺻ‍‍ﻠ‍‍ﻰ .. ‍ﺗ‍‍ﺠ‍‍ﺐ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺇ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﺓ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﺻ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻩ‍ ‍ﺑ‍‍ﻪ‍; ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﻘ‍‍ﺼ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﺪ‍ﻝ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺒ‍‍ﺪ‍ﻝ‍.

Sholat orang yg dperban krn luka dll harus diulang/diqadla :
1. Kalau perbannya di anggota tayammum (muka n tangan), karena gak bisa diganti dengg tayammum, karena anggota tayammum sedang diperban,
2. Kalau perbannya diletakkn dalam keadaan madih hadats
3. Kalau diletakkn dalam keadaan suci, akan tetapi perban/pengikatnya melebihi dari kebutuhannua, misalnya pengikatnya butuh 2 cm padad anggota yang sehat/pinggir lukanya, tapi ngambilnya sampe 3 cm atau 4 cm.
Sebelum diperban biasanya dibersihkn dengg eltanol dll, hal ini dima'fu

MENINGGALKAN YANG TIDAK BERGUNA



Meninggalkan Yang Tidak Berguna

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا

Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah  ﷺ bersabda : Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya .
(Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Termasuk sifat-sifat orang muslim adalah dia menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia serta menjauhkan perkara yang hina dan rendah.

2. Pendidikan bagi diri dan perawatannya dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat didalamnya.

3. Menyibukkkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah kesia-siaan dan merupakan pertanda kelemahan iman.

4. Anjuran untuk memanfaatkan waktu dengan sesuatu yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri bagi dunia maupun akhirat.

5. Ikut campur terhadap sesuatu yang bukan urusannya dapat mengakibatkan kepada perpecahan dan pertikaian diantara manusia.

Tema  Hadist yang berkaitan dengan  Al-Quran:

1. Optimalisasi waktu dan potensi

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.(Al asr: 1-2-3)

2. Meninggalkan hidup terlena

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi
(Al- Munafikun:9)

RIYA'



بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه
*Riya'*

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً »

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad 5: 429)

Kandungan hadits

1. Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain.

 2. Riya’  melakukan amalan tidak ikhlas karena Allah karena yang dicari adalah pandangan, sanjungan dan pujian manusia, niatnya tidak   murni mencari ridha Allah.

3. Riya adalah penyakit yang banyak menimpa seseorang ketika beribadah, dan biasanya mengenai orang orang baik. Riya termasuk dosa besar karena dianggap sebagai syirik skala mini. Dan segala dosa yang tidak ada ampunanya adalah ketika seseorang mengambil tuhan selain Allah dalam niat, keyakinan, dan perbuatan.

Sunday, 19 August 2018

HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN PUASA, QURBAN DAN SHODAQOH PADA 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

*HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN PUASA, QURBAN DAN SHODAQOH PADA 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH*



Bismillah. Diantara hadits-hadits yang banyak beredar di tengah kaum muslimin melalui berbagai media cetak maupun elektronik dan ceramah ialah hadits yang menerangkan tentang keutamaan puasa dan amalan-amalan ibadah lainnya di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.



Adapun teks haditsnya sebagai berikut:

روي عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:
1- في أول يوم من ذي الحجة غفر الله فيه لآدم ومن صام هذا اليوم غفر الله له كل ذنب.
2- وفي اليوم الثاني استجاب الله لسيدنا يوسف، ومن صام هذا اليوم كمن عبد الله سنة ولم يعص الله طرفة عين.
3- وفي اليوم الثالث استجاب الله دعاء زكريا، من صام هذا اليوم استجاب الله لدعاه.
4- وفي اليوم الرابع ولد سيدنا عيسى عليه السلام، ومن صام هذا اليوم نفى الله عنه البأس والفقر وفي يوم القيامة يحشر مع السفرة الكرام.
5- وفي اليوم الخامس ولد سيدنا موسى عليه السلام، ومن صام هذا اليوم برئ من النفاق وعذاب القبر.
6- وفي اليوم السادس فتح الله لسيدنا محمد بالخير، ومن صامه ينظر الله إليه بالرحمة ولا يعذبه أبدا .
7- وفي اليوم السابع تغلق فيه أبواب جهنم، ومن صامه أغلق الله له ثلاثين بابا من العسر وفتح الله له ثلاثين بابا من الخير.
8- وفي اليوم الثامن المسمى ” بيوم التروية “، ومن صامه أعطى له من الأجر ما لا يعلمه إلا الله.
9- وفي اليوم التاسع وهو يوم عرفة من صامه يغفر الله له سنة من قبل وسنة من بعد.
10- وفي اليوم العاشر يكون عيد الأضحى وفيه قربان وذبح ذبيحة ففي أول قطرة من دماء الذبيحة يغفر الله ذنوبه وذنوب أولاده.
ومن أطعم فيه مؤمنا وتصدق بصدقة بعثه الله يوم القيامة آمنا ويكون ميزانه أثقل من جبل أُحد.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

1. “Di hari pertama bulan Dzulhijjah Allah mengampuni (nabi) Adam, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari tersebut Allah akan mengampuni seluruh dosanya”

2. “Di hari kedua Allah mengabulkan doa sayyidina Yusuf, dan barangsiapa yang berpuasa di hari itu pahalanya seperti beribadah kepada Allah setahun penuh dan tidak bermaksiat walau sekejap mata”

3. “Di hari ketiga Allah mengabulkan doa Zakaria, dan barangsiapa yang berpuasa pada hari itu Allah akan mengabulkan doanya”

4. “Di hari keempat lahir sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan menghilangkan kefakiran darinya dan pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama As Safarat Al Kiram (malaikat yang mulia –pent)

5. “Di hari kelima lahirlah Musa ‘alaihissalam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu ia akan dibebaskan dari sifat munafik dan adzab kubur”

6. “Di hari keenam Allah membukakan sayyidina Muhammad ‘alaihis sholatu wassalam kebaikan, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan melihatnya dengan rahmat-Nya dan ia tidak akan diadzab”

7. “Di hari ketujuh ditutup pintu-pintu jahannam, dan barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan tutup baginya 30 pintu kesulitan dan Allah bukakan baginya 30 pintu kebaikan”

8. “Di hari kedelapan yang disebut juga dengan hari Tarwiyah, barangsiapa berpuasa pada hari itu akan diberi balasan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah”

9. “Di hari kesembilan yaitu hari Arafah barangsiapa berpuasa pada hari itu Allah akan mengampuni dosanya selama setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya”

10. “Di hari kesepuluh yaitu Idul Adha, di dalamnya terdapat qurban, penyembelihan, dan pengaliran darah (hewan qurban), Allah akan mengampuni dosa anak-anaknya (yaitu orang yang berpuasa tadi –pent). Barangsiapa yang memberi makan orang mukmin dan bershadaqah, maka Allah akan mengutus baginya pada hari kiamat, keamanan dan timbangannya lebih berat dari Gunung Uhud.”


*DERAJAT HADITS:*

Derajat Hadits ini *Maudhu’ (PALSU)* karena tidak ada asal-usulnya yang jelas, dan tidak ditemukan di dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama sunnah syaikh Abdurrahman As-Suhaim dan DR. Abdullah Al-Faqih hafizhohumallah.

Oleh karenanya, DILARANG KERAS menyebarluaskannya melalui media apapun seperti internet, sms, bbm, WA, majalah atau ceramah kecuali dengan tujuan untuk menjelaskan dan memperingatkan umat Islam akan kepalsuannya, agar mereka tidak meyakininya sebagai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


Semoga bermanfaat. 

Dan semoga Allah melindungi kita semua dari bahaya HADITS DHO’IF dan PALSU yang sangat banyak beredar di tengah kaum muslim melalui berbagai media. Amiin.


*#CATATAN:*
Khusus untuk point no.9 tentang keutamaan puasa sunnah Arofah terdapat hadits Shohih yang mensyari'atkan, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab Shohihnya. Sehingga kita dianjurkan untuk mengamalkannya.
SMG ALLAH SELALU BERSAMA KITA

Puasalah gak papa....tapi jangan bersandar pada hadits *palsu*....nnt pahalanya *palsu*....😌
tapi dosanya gak *palsu*...
Ikut hadits yang menjelaskan bahwa puasa di bulan2 harom adalah afdol:
ﻓﻘﺪ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺻﻴﺎﻡ ﺍﻷﺷﻬﺮ ﺍﻟﺤﺮﻡ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﻟﻠﺒﺎﻫﻠﻲ “ ﺻﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺮﻡ ﻭﺍﺗﺮﻙ ” ﺛﻼﺙ ﻣﺮﺍﺕ . ﻭﺗﻜﻠﻤﺖ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﺤﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻻ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺻﻴﺎﻡ ﺍﻷﺷﻬﺮ ﺍﻟﺤﺮﻡ ﺑﻌﻴﻨﻬﺎ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻓﻘﻂ، ﻟﻤﺎ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺍﻟﺴﻨﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : “ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﺑﻌﺪ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺷﻬﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡ ﻭﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻠﻴﻞ .” ﻭﺍﻟﺮﺍﺟﺢ ﻫﻮ ﻣﺎ ﺫﻫﺐ ﺇﻟﻴﻪ ﺟﻤﺎﻫﻴﺮ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻭﻋﻤﻼً ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ . ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ
“Jumhur fuqaha’ telah menganjurkan berpuasa di bulan-bulan haram, seperti diriwayatkan oleh Abu Daawud bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Al-Baahiliy, “Berpuasalah pada bulan haram dan tinggalkanlah,” sebanyak 3 kali. Sejumlah ahli ilmu telah membicarakan keshahihan hadits ini, mereka berkata, “Tidak dianjurkan berpuasa pada bulan-bulan haram secara khusus kecuali pada bulan Muharram saja,” seperti telah tetap pada Shahiih Muslim dan kitab Sunan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa paling afdhal setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram, dan shalat paling afdhal setelah shalat-shalat fardhu adalah shalat malam.” Dan yang rajih (dalam masalah puasa di bulan-bulan haram ini) adalah pada pendapat yang dipegang jumhur fuqaha’ dan pengamalan haditsnya. Wallaahu Ta’ala a’lam.

Featured Post

SOAL PRAKARYA KELAS 11

  1 . Berikut merupakn bahan yang termasuk jenis bahan limbah organic, kecuali …. a. kerang                  b. batok kelapa             ...